Grup keluarga tiba-tiba ramai karena satu pesan berantai soal bencana di kota sendiri, lengkap dengan foto dan tulisan yang meminta segera disebarkan. Sebelum ikut meneruskan, coba tahan sebentar dan periksa beberapa hal dasar. Cara membedakan berita asli dan hoaks untuk pemula sebenarnya tidak rumit, asal tahu urutan pemeriksaannya.
Kenali dulu bentuk hoaks yang paling sering muncul
Informasi palsu tidak selalu berbentuk tulisan panjang. Ada beberapa tipe yang paling sering beredar di grup percakapan dan media sosial.
- Judul provokatif yang isinya tidak cocok dengan badan berita.
- Foto atau video lama, lalu dipakai untuk peristiwa baru.
- Kutipan pejabat atau tokoh yang tidak pernah ada.
- Pesan berantai minta dibagikan ke banyak grup.
- Situs yang mirip media resmi, tetapi alamatnya berbeda satu dua huruf.
Mengenali bentuknya membantu kamu tahu bagian mana yang perlu diperiksa lebih dulu.
Cek judul, jangan berhenti di situ
Judul berita yang sah biasanya mengikuti aturan dasar jurnalistik: menyebut siapa, apa, di mana, dan kapan. Judul hoaks cenderung mengaburkan siapa pelakunya, memakai huruf kapital berlebihan, atau menambahkan tanda seru. Kalau judul terasa memancing emosi, baca paragraf pertamanya. Di situ biasanya terlihat apakah isi benar-benar mendukung klaim judul.
Periksa sumber dan alamat situsnya
Buka media yang disebut sebagai sumber. Media resmi punya halaman redaksi, alamat kantor, dan nama penanggung jawab yang bisa dicek. Kalau tidak ada satu pun, itu tanda bahaya. Perhatikan juga alamat situsnya. Situs tiruan sering memakai nama yang mirip, misalnya dengan menambah kata atau mengubah huruf.
Di media sosial, akun bercentang belum otomatis berarti isinya benar. Yang perlu dilihat adalah rekam jejak akun itu: apakah aktif meliput topik serupa dalam jangka waktu lama, atau hanya muncul saat isu tertentu ramai. Untuk klaim kesehatan yang beredar di percakapan pribadi, langkahnya mirip dengan cara cek fakta klaim kesehatan di media sosial, yaitu menelusuri siapa yang menyampaikan dan dari mana asalnya.
Cocokkan dengan sumber lain
Satu berita biasanya diliput beberapa media. Kalau hanya ada satu sumber dan tidak ada media lain yang mengabarkan hal serupa, tunggu dulu. Perlu dibedakan antara peristiwa yang benar-benar terjadi tetapi belum diliput, dan klaim yang tidak punya dasar sama sekali. Cara paling aman: cari kata kunci intinya, lalu lihat apakah kanal berita besar ikut memberitakan.
Untuk isu yang berkaitan dengan angka dan kebijakan, cara membaca berita ekonomi agar tidak salah tafsir bisa jadi latihan yang berguna, karena banyak hoaks menumpang istilah teknis agar terlihat kredibel.
Perhatikan tanggal dan konteks foto
Banyak informasi palsu memakai foto lama untuk peristiwa baru. Ciri ini sering muncul saat musim bencana, karena foto banjir atau gempa dari tahun lalu mudah ditemukan. Periksa tanggal unggahan foto. Kalau peristiwanya disebut baru terjadi, padahal fotonya sudah beredar sejak lama, besar kemungkinan narasinya telah diubah.
Hal serupa berlaku untuk video. Potongan klip yang pendek tanpa keterangan waktu dan lokasi mudah dipindahkan ke konteks lain. Kalau kamu tidak bisa memastikan kapan dan di mana video itu dibuat, jangan jadikan dasar untuk menyebarkan klaim.
Kenali jenis klaim yang sering menipu
Beberapa topik paling sering dipakai untuk menyebarkan hoaks: bantuan sosial, kesehatan, bencana, politik, dan keuangan. Untuk bantuan sosial, jangan percaya tautan pendaftaran yang dikirim lewat pesan pribadi. Cek melalui kanal resmi instansi terkait, seperti dijelaskan pada panduan cara cek bansos online agar tidak salah informasi.
Untuk klaim medis, waspadai kalimat yang menjanjikan kesembuhan pasti. Informasi kesehatan yang sah biasanya menyebut keterbatasan bukti dan menyarankan konsultasi ke tenaga medis.
Langkah praktis sebelum ikut membagikan
Urutan pemeriksaan di bawah ini bisa dipakai berulang kali sampai kebiasaan.
- Baca isi berita, bukan hanya judulnya.
- Cari nama media dan penulisnya.
- Periksa tanggal peristiwa dan tanggal unggahan.
- Cari satu atau dua sumber lain yang mengabarkan hal sama.
- Kalau ragu, jangan sebarkan, cukup tanyakan ke orang yang lebih paham.
Poin kelima sering diabaikan. Menahan diri beberapa menit lebih baik daripada menarik kembali informasi yang sudah tersebar ke puluhan grup.
Kalau terlanjur menyebarkan informasi yang salah
Segera kirim koreksi ke grup atau kolom komentar tempat kamu membagikannya. Sebut secara jelas bagian yang salah dan sertakan sumber yang benar. Tidak perlu berpanjang lebar, cukup satu pesan singkat. Langkah ini penting supaya orang yang membaca pesan lamamu tidak terus memegang informasi keliru.
Untuk isu yang sudah ramai dibicarakan banyak orang, cara verifikasi informasi viral sebelum disebar memberi gambaran lebih lengkap tentang alur penelusurannya, mulai dari unggahan asal sampai reaksi publik.
Ringkasan
Membedakan berita asli dan hoaks bertumpu pada tiga hal: baca isi beritanya, periksa sumber dan tanggalnya, lalu bandingkan dengan pemberitaan lain. Latihan ini makin cepat dilakukan seiring kebiasaan, dan efeknya besar karena satu orang yang berhati-hati bisa menghentikan penyebaran informasi salah di lingkaran terdekatnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah berita dari media besar selalu benar?
Tidak selalu. Media besar umumnya punya prosedur penyuntingan, tetapi tetap bisa keliru. Karena itu, mencocokkan dengan sumber lain tetap perlu, terutama untuk klaim yang sensitif.
Berapa lama sebaiknya menunggu sebelum ikut membagikan berita?
Tidak ada patokan pasti. Kalau isinya mendesak dan menyangkut keselamatan, utamakan kanal resmi instansi terkait. Untuk isu lain, cukup pastikan minimal ada dua sumber kredibel sebelum kamu meneruskan.
Bagaimana kalau saya tidak punya waktu memeriksa satu per satu?
Pilih satu kebiasaan yang paling mudah, misalnya selalu membaca isi berita sebelum judulnya dipercaya. Satu kebiasaan kecil ini sudah menutup banyak jenis hoaks yang beredar.